Jaga kesehatan telinga agar tidak tuli saat tua

REDAKSIRIAU.CO.ID Masalah kesehatan telinga sering kali baru ditangani ketika sudah ada gejala-gejala yang tidak nyaman dan dirasa mengganggu pendengaran.

Padahal berbagai penyakit yang ada pada telinga sebenarnya bisa diminimalkan atau dicegah agar tidak berakibat masalah kesehatan atau bahkan ketulian.

Tidak sedikit juga masyarakat yang abai terhadap perilaku tidak sehat atau salah memberi perlakuan pada telinganya yang berpotensi menyebabkan ketulian.

Kasus ketulian di Indonesia terbagi ke beberapa jenisnya mulai dari tuli degeneratif pada orang tua yang jumlahnya empat persen dari orang usia lanjut, tuli sejak lahir, tuli akibat dari lingkungan, infeksi telinga tengah, pengumpulan serumen atau kotoran telinga, dan kejadian tuli mendadak.

Tuli akibat usia menjadi paling banyak kasusnya dikarenakan sel-sel di organ rumah siput pada telinga mengalami degenerasi. Biasanya tuli degeneratif terjadi pada orang di usia lebih dari 60 tahun.

Kendati demikian, banyak beberapa perilaku yang dapat mempercepat ketulian sehingga bisa dialami oleh orang yang lebih muda.

Yang paling banyak ditemui di era teknologi di mana segala keperluan dapat dilakukan melalui gawai adalah penggunaan penyuara telinga atau "ear phone" tidak sesuai anjuran.

Wakil Ketua Komnas Penanggulangan Gangguan Pendengaran dan Ketulian (PGPKT) dr Hably Warganegara Sp.THT-KL menyebutkan suatu kasus ketulian hingga menurunkan fungsi pendengaran sangat signifikan pada seorang penumpang pesawat yang terbang dari Amerika Serikat menuju Indonesia.

Penumpang tersebut mendengarkan musik menggunakan penyuara telinga tanpa berhenti sepanjang penerbangan. Akibatnya, fungsi pendengaran penumpang tersebut terus menurun hingga 80 desibel atau tuli berat.

Contoh suara dengan kekuatan 80 desibel ialah suara grand piano atau dering telepon kabel.

Aturan penggunaan penyuara telinga pada gawai ialah dengan batas volume maximum 60 persen dari pengaturan suara maksimal. Itu pun hanya boleh digunakan tidak lebih dari 60 menit.

Bila penggunaan penyuara telinga terlalu keras ditambah waktu pemakaian yang lama berpotensi menurunkan fungsi pendengaran hingga 60 desibel.

Sangat perlu diwaspadai bagi orang yang sering menggunakan penyuara telinga lebih lama seperti pemain game profesional berpotensi mengalami penurunan fungsi pendengaran lebih cepat. Terlebih lagi apabila ada orang yang kerap mendengarkan musik dengan menggunakan penyuara telinga saat tidur, sangat tidak dianjurkan.

Efek penurunan fungsi suara akan terjadi perlahan-lahan seiring kerusakan rumah siput dan dapat mempercepat degenerasi sel-sel organ dalam telinga sehingga ketulian bisa dialami pada usia yang lebih muda.

Perlu diketahui bahwa ketulian dikategorikan berdasarkan tingkatannya mulai dari yang ringan hingga berat. Tuli ringan contohnya tidak jelas mendengar perkataan lawan bicara sehingga minta diulang. Tuli ringan hanya bisa mendengarkan suara antara 30-40 desibel.

Normalnya, pendengaran manusia dengan telinga yang sehat dapat mendengar tanpa ada batas waktu mulai dari 0 hingga 25 desibel. Di atas itu, ada batasan waktu untuk telinga mendengarkan suara yang keras agar tidak terjadi kerusakan pada organ dalam telinga.

Suara dengan kekuatan 0 hingga di bawah 10 desibel seperti suara embusan angin yang menyebabkan gesekan daun serta suara burung berkicau. Suara 10 sampai 20 desibel seperti suara air menetes dan bicara dengan berbisik.

Namun, orang dengan kemampuan pendengaran di atas 40 desibel terkadang mendengar orang lain berbicara dengan kata yang tidak beraturan.

Orang dikatakan tuli sedang apabila kemampuan pendengarannya di atas 40-60 desibel. Misalnya, apabila dipanggil namanya dari belakang dia tidak mendengar.

Suara dengan kekuatan 50-70 desibel antara lain suara bayi menangis, mesin penghisap debu, dan gonggongan anjing.

Jika kemampuan pendengarannya berada pada 80 desibel, seseorang tidak dapat mendengar suara orang berbicara sehingga membuatnya hanya menerka dan membaca gerakan bibir. Kategori ini termasuk dalam tuli berat.

Sementara yang paling parah ialah kemampuan pendengaran di atas 80-90 desibel hingga disebut seperti hidup di ruang hampa. Suara dengan kekuatan antara 80-120 desibel adalah suara kendaraan bermotor, dering bel, suara helikopter, mesin pesawat, musik band, dan letusan senjata.

Penurunan fungsi telinga hingga menyebabkan ketulian ringan hingga sedang juga harus diperhatikan pada beberapa profesi pekerjaan. Pekerja yang bekerja di tempat bising seperti pabrik, area permainan di pusat perbelanjaan, pekerja di diskotik, dan lainnya yang terpapar suara bising secara terus menerus sangat berisiko.

Bagi pekerja yang bekerja di tempat bising tersebut bisa meminimalkan efek buruk dari kebisingan dengan menggunakan penyumbat telinga atau pembatasan waktu dalam bekerja yang lebih sehat.

Ikuti Terus Redaksiriau.co Di Media Sosial

Tulis Komentar


Loading...