REDAKSIRIAU.CO, JAKARTA, — Pengamat politik Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia, Ikrar Nusa Bakti, menilai rekaman percakapan antara orang-orang yang diduga Ketua DPR Setya Novanto, pengusaha minyak Riza Chalid, dan Presiden Direktur PT Freeport Indonesia Maroef Sjamsoeddin banyak mengungkap hal-hal lain di luar permintaan saham. Salah satunya, yang tak banyak dilihat publik, adalah upaya untuk mengudeta Presiden Joko Widodo dari RI 1. "Ada upaya-upaya kudeta politik terhadap Jokowi dan seakan-akan nanti bisa kita gantikan dengan Wapres JK," kata Ikrar dalam jumpa pers bersama sejumlah tokoh di Jakarta, Jumat (4/12/2015). Menurut dia, hal tersebut bisa dilihat dari bagaimana Setya Novanto dan Riza mengeluhkan sulitnya berbisnis pada era Jokowi. (Baca: Ini Transkrip Lengkap Rekaman Kasus Setya Novanto) Di sisi lain, mereka berandai-andai mengenai enaknya apabila Jusuf Kalla yang menjadi Presiden. (Baca: Setya Novanto dan Riza Chalid Keluhkan Jokowi dan Lebih Pilih Jusuf Kalla) "Kenapa Jokowi mau diganti? Karena orang ini enggak bisa ditekan-tekan. Di situ juga kan disebut kalau Jokowi keras kepala, kopig istilahnya," ucap Ikrar. Berikut dialog dalam rekaman yang dinilai oleh Ikrar sebagai upaya untuk mengudeta Jokowi: MR (Muhammad Riza Chalid): Kalau negara aman, kita punya jalan. Tapi kalau ribut terus di parlemen, pusing kepala. Bayangin sudah kurang aman negara, ekonominya ancur. SN (Setya Novanto): Kesalahan menteri-menterinya juga. MR: Ya presiden juga andil. SN: Ya kita harus jujur . MR: Kalau Pak JK Presiden... SN: Wah terbang kita. MR: Atau dia pasrahin Pak JK urus ekonomi saja, saya pergi dah blusukan. Pak JK urus saja ekonomi. SN: Ya, tapi sekarang sudah dibatasin terus Presiden. MR: Obyektif ya Pak, kita pengin ada growth, bisnis kita jalan, semua orang gitu kan. Gaji lancar pajaknya enggak gila-gilaan. Pajaknya gila Pak. Pajaknya dahsyat Pak. MS (Maroef Sjamsoeddin): Semua macam-macam dipajakin ya. SN: Hancur. MR: Iya. SN: Mobil jeblok, orang beli gak bisa. Perbankan gak mau lagi, hancur. MR: Kalau Freeport mah gak ada kaitannya sama ini. Kalau saya ada ritel, saya punya airlines, hancur berdarah. Rupiahnya jelek marketnya drop. Saya ada perusahaan ritel, saya punya toko-toko orang perempuan di mall-mal, gubrak, waduh gila pak. Bagaimana nasibnya. Perkebunan sawit juga jeblok perusahannya. Gimana pula. SN: Gak ada uang. MR: Gak ada uang. Rakyat udah gak ada uang. Gak ada demand, drop. MS: Itu konsep PP 15 untuk sawit gak jalan Pak? Padahal itu konsepnya presiden untuk CPO. MR: Hancur Pak, hancur Pak SN: Presiden itu senang meresmikan meresmikan. Tapi sekarang gak jalan. Sekarang dia serahin ke Pak Jusuf Kalla. Saya ketemu Pak Jusuf Kalla. Jusuf Kalla bilang wah ini banyak yang gak jalan. Saya bilang jangan meresmikan terus. MR: Kalau Pak JK itu pengusaha. SN: Bagus itu, Pak. MS: Dia bisa menghitung. MR: Bagus, Pak. Dia bisa mengcreate. Kalau tahu sekarang kita lagi berdarah. Dia gak mungkin menghindari, dia tidak akan diam. Dia akan cari akal. Jokowi mana mau ketemu kita. Allah SN: Ini kaya PSSI babak belur. MS: Kita kan sponsor Persipura. Bubar, Pak. Pada ngirim surat mau membubarkan. Kasihan Persipura. MR: Pemain bola itu kalau dia gak main dua bulan, otot-ototnya rusak semua. MS: Drop semua. Sakit semua. Sakit jantung semua, Pak. SN: Kembali itu, Pak. Pak Luhut ditakutin, enggak bisa enggak. MR: Sebetulnya lepas dari apa pun, nasibnya jelek. Jujur saja ya Pak, nasibnya jelek sebagai bangsa Indonesia. Mendingan karena Jokowi tapi kita kan berdarah. Masak musuhan itu kan gilaaa. Aduuhhh… Ampuuunnn ampuunnn.