REDAKSIRIAU.CO - Penurunan suku bunga acuan Bank Indonesia (BI rate) menjadi 7 persen mulai diikuti perbankan, khususnya bank plat merah alias bank milik pemerintah.

 

PT Bank Negara Indonesia Tbk (BNI) salah satu bank plat merah yang mulai menurunkan bunga kredit maksimal Rp 5 miliar menjadi single digit.

”Kita turunkan suku bunga kredit hingga berada di bawah 10 persen. Berlaku mulai April mendatang,” kata Direktur Utama  BNI Achmad Baiquni.

Keputusan penurunan bunga kredit diambil manajemen BBNI karena suku bunga deposito pasar Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) diyakini terus turun hingga akhir tahun. Penurunan tersebut merespons penurunan BI rate.

”Mungkin penurunannya sampai 0,25 persen,” terangnya.

Baiquni berharap Bank Indonesia menurunkan lagi giro wajib minimum (GWM) sehingga likuiditas pasar menjadi lebih longgar sekitar Rp 4,1 triliun.

Pada 16 Maret lalu, Bank Indonesia telah menurunkan GWM primer dalam rupiah dari 7,5 persen menjadi 6,5 persen dari dana pihak ketiga (DPK). GWM primer bank merger dan konsolidasi diturunkan dari 6,5 persen menjadi 5,5 persen dari DPK.

BI berharap pelonggaran GWM menambah jumlah uang yang beredar sebesar Rp 34 triliun. BI juga berharap pertumbuhan kredit meningkat dari proyeksi 12,5 persen menjadi 14 persen pada akhir tahun.

Selain BNI, Bank Rakyat Indonesia (BRI) segera menurunkan suku bunga kredit 25 basis poin (bps).

”Itu (penurunan bunga) untuk sektor kredit mikro. Kalau untuk kredit korporasi belum (diturunkan),” kata Direktur Keuangan BRI Haru Koesmahargyo.

Penurunan suku bunga dilakukan bank-bank pelat merah untuk menindaklanjuti perintah Otoritas Jasa Keuangan (OJK) agar bank menurunkan bunga kredit menjadi single digit.

Penurunan bunga kredit mikro hanya sasaran perantara BBRI karena ke depan perseroan mengupayakan kredit ritel dan menengah menjadi single digit.

”Fokusnya ke ritel dan menengah. Funding juga segitu. Kisarannya sekitar 25 bps sampai 50 bps,” ungkap Haru.